-_-"
“SINI! SINI! Dan, apa-apaan sih kamu?”
“Dasar cacat! Ayo ambil kalo’
berani!” Danu membawa pergi kertas itu sambil tertawa-tawa mengejek.
Fahmi tak putus asa. Dengan susah
payah, dia berusaha melepaskan diri dari teman-teman Danu yang memegang
tangannya. Kertas itu sangat penting baginya. Dia harus segera mendaoatkannya.
Dua orang teman Danu kaget saat Fahmi memberontak. Biasanya dia hanya akan
pasrah kalau bos mereka itu mulai jahil lagi padanya. Akhirnya, Fahmi berhasil
melepaskan dirinya. Namun…
“Jangan!!!” Fahmi berteriak. Danu
terlanjur melemparkan kertas yang penting itu dari balkon kelas yang terletak
di lantai empat. Dengan sigap Fahmi segera berlari ke bawah untuk mengambil
kertas itu. Dia sangat takut kalau-kalau kertas itu sampai hilang.
Tangga-tangga dilewati Fahmi
dengan tergesa. Hampir saja dia terpeleset saat akan menginjak lantai dua.
Telinganya yang tajam masih bisa mendengar Danu yang tertawa-tawa seperti orang
kesurupan. Sekolah memang sudah sepi, hanya ada beberapa siswa saja yang
tinggal untuk mengikuti ekstra. Entah mimipi apa Fahmi semalam, sampai-sampai
hari ini harus berhadapan dengan Brutus SMU 34, Danu.
Sampai di halaman sekolah, yang
tepatnya adalah lapangan basket, Fahmi mencari-cari kertasnya. “Semoga saja tidak ada yang membuangnya di
tempat sampah,” doanya dalam hati. Namun tak ayal, Fami-pun sepertinya
harus mengorek-ngorek tempat sampah setelah kertas itu tak kunjung ditemukan
meskipun dia telah mencarinya sampai ke sudut-sudut lapangan.
“Ehm.. apa kamu mencari ini?”
Fahmi melihat dua orang yang
sangat dikenalnya mendekat. Tentu saja mereka terkenal! Mereka berdua itu
adalah anak dari orang yang paling kaya di sekolah. Yang putih dan tinggi itu,
namanya Riza. Dia putra seorang produser film yang terkenal. Nah, kalau yang
pakai kacamata itu, namanya Hafiz. Ayahnya adalah seorang pengacara kondang. (and now, I'm sure that it's Indonesian short story. Wanna to getting more klik di sini)
0 komentar: